RSS Feed

TULISANQ

ku hembuskan nmamu dalam setiap nafasku………..

ku teteskan setiap tetes air mataku dalam doaku……

ku bawa kau tidur bersamaku dalam sebuah impian indah………

ditengah sunyinya malam, q merintii,menangiiiisss……

seraya berkata……….

kapanah kau kembali mengisi relung hatiku yang gunda ini……

ayah….ayah…..ayahhhh….ayahhhhhhhh…ayahhhku…….

Dalam setiap alunan do”a ku…….

Hanya satu yang ku minta dalam Hidupku……

Ya Allah Jangan kau Ambil Nyawaku sebelum aku Mampu membahagiakan kedua orang tuaku……….

Kau sudah mengambil Ayahku…..aku tak mau lage engkau mengambil ibuku…..

ya Allah tlong kabulkanlah do”a hambamu ini……

ARTIKEL MANAJEMENT KEUANGAN

MANAJEMEN KEUANGAN DALAM BISNIS Perspektif Al-Qur’an

Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya berprofesi sebagai pedagang. Beliau senang berdagang antar beberapa negara. Aktivitas berbisnis Nabi baik etika maupun metode beliau patut dipelajari dan diterapkan mada zaman ini. Oleh sebab itu penting sekali memperhatikan dan mengkolerasikan antar bisnis pada zaman modern ini dengan berbisnis yang sesuai dengan syariat Islam. Bisnis disebut juga tijarah, karena mempunyai kesamaan tujuan yakni mencari keuntungan. Tijarah dalam kamus at-Ta’rifat berarti:

عبارة عن شراء شئ لبيع بالربح

“Ungkapan tentang membeli sesuatu untuk dijual dan mencari laba”

Nabi SAW. Menganjurkan untuk berbisnis sebagaimana sabdanya.

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الر زق (رواه أحمد(

Artinya, Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki(H.R.Ahmad).

Tijarah yang dimaksud disini adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk mencari dan mendapatkan keuntungan, akad tijarah biasa digunakan dalam transaksi jual beli. Akad tijarah terbagi menjadi dua macam yaitu Natural Certainly Contract, dalam Natural Certainly Contract cash flow dan timingnya bisa diprediksi dengan pasti sebab telah ada kesepakatan antar kedua belah pihak yang bertransaksi diawal akad. Sistemnya adalah dengan menukarkan asset yang dimiliki, karena itu objek pertukarannya ditentukan diawal akad baik jumlah(kuantitas), mutu(kualitas), harga dan waktu penyerahannya. Natural Certainly Contract terdiri dari jual beli, ijarah (sewa menyewa) dan lain-lain. Natural Uncertainly Contract, dalam hal ini cash flow dan timing pasti tergantung pada hasil investasi yang bisa negative, positif bahkan nol. Dalam Natural Uncertainly Contract, asset yang dimiliki akan dicampurkan sedangkan resiko, kerugian dan keuntungan ditanggung bersama-sama oleh karena itu kontrak ini tidak memberikan kepastian pendapatan(return) baik jumlah dan waktunya. Natural Uncertainly Contract meliputi musyarakah, muzara’ah (benih dari pemilik lahan), mukhabarah (benih dari penggarap lahan), dan musaqah (tanaman tahunan). Cara pembayaran atau bagi hasilnya bisa dengan tunai (naqdan) dan tidak tunai (ghairu naqdan), misalnya jual beli dengan prinsip as-salam yaitu uang diserahkan terlebih dahulu kemudian barang atau istisna’ yaitu uang dibayar lebih dahulu secara bertahap kemudian barangnya.

Selain akad tijarah dikenal juga dalam Islam akad tabarru’, akad ini tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan melainkan untuk tolong menolong semata-mata untuk mendapatkan pahala dan ridlo dari Allah Swt Dan akad juga digunakan untuk memindahkan kepemilikan harta atau benda dengan cara hibah, shadaqah dan derma. sumber: Nur Hotimah http://noe18chotee.blogspot.com/ Melihat pada dua metode pembayaran ini yakni secara tunai(kontan) dan bertahap(kredit), maka perlu adanya beberapa ketentuan agar transaksi yang dilakukan tidak mengalami kerugian dan masalah dikemudian hari. Al-quran juga mengajarkan agar dalam kegiatan perdagangan dilakukan pencatatan, yang dalam konteks pada zaman sekarang disebut akuntansi. Al-Qur’an menyebut dan menjelaskan hal ini yakni pada surat Al-Baqarah:282 .

B. VOCUS AYAT

Al-qur’an menyebutkan ayat yang berkaitan dengan tema ini cukup banyak. Hanya saja tijarah atau transaksi ini masih dijelaskan secara umum dan masih butuh pada penjelasan yang lebih rinci. تجارة disebutkan sebanyak 8 kali dalam 7 surat, yaitu surat Al-Baqarah:282, An-Nisa’:29, At-Taubah: 24, An-Nuur:37, Faatir:29, As-Shaff:10 dan pada surat Al-Jumu’ah ayat 11, Di antara delapan ayat tersebut hanya 5 ayat yang berkonotasi bisnis material. Sedangkan 3 ayat lagi makna tijarah tidak berkonotasi bisnis (perdagangan) yang riel, tetapi dalam makna majazi, yaitu Al-baqarah 16, Fathir: 29 dan Shaf : 10. Yang dijadikan vocus ayat pada pembahasan ini adalah surat Al-Baqarah ayat 282, dalam ayat tersebut dijelaskan jika jika transaksi yang digunakan adalah hutang piutang dalam batas waktu tertentu maka sebaiknya dicatat untuk menghindari penipuan namun beda halnya jika transaksi yang dilakukan secara tunai dan biasanya dilakukan dalam jumlah kecil maka tidak harus dicatat. Sebagaimana surat al Baqarah ayat 282:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى وَلاَ يَأْبَ الشُّهَدَاء إِذَا مَا دُعُواْ وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيراً أَو كَبِيراً إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوْاْ إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلاَ يُضَآرَّ كَاتِبٌ وَلاَ شَهِيدٌ وَإِن تَفْعَلُواْ فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah. tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

C. KATA KUNCI (KEY WORD)

Surat Al-Baqarah ayat 282 tersebut merupakan ayat paling panjang dalam Al-Qur’an, kami menfocuskan pada potongan ayat berikut ini:

.. إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا……

Dari potongan ayat tersebut dapat diambil beberapa kata penting untuk dijadikan kata kunci (key word) yaitu تجارة, حاضرة, تُدِيرُون , dan تكتبوا. Sudah pasti lafadz تجارة menjadi vocus utama sebab lafadz tersebut adalah kunci pembahasan atau tema ini. Selanjutnya lafadz تجارة tersebut ditakhsis denga lafadz حاضرة sehingga bisnis(tijarah) yang mempunyai dua macam cara pembayaran yaitu naqdan (tunai) dan ghairu naqdan(kredit), yang dimaksud dalam ayat ini haruslah bersifat tunai (naqdan). Kata تُدِيرُون , dan تكتبوا merupakan sebab akibat jika transaksi tersebut dijalankan(تُدِيرُون) secara tunai maka akibatnya boleh tidak dicatat(َ أَلاَّ تَكْتُبُوا).

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas maka perlu membandingkan dengan beberapa surat yang menyebutkan lafadz-lafadz tersebut. Perhatikan perincian berikut ini:

1. تجارة

Hal-hal yang berkaitan dengan topik pembahasan ini yakni tijarah disebutkan dalam beberapa ayat al-qur’an. Dengan menggunakan bentuk kata تجارة disebutkan sebanyak 8 kali dalam 7 surat, yaitu surat Al-Baqarah:282, An-Nisa’:29, At-Taubah: 24, An-Nuur:37, Faatir:29, As-Shaff:10 dan pada surat Al-Jumu’ah ayat 11 disebutkan sebanyak 2 kali. Sedangkan dalam bentuk تجارتهم dengan dlomir setelahnya disebutkan dalam Al-Baqarah ayat 16.

Semua kata تجارة dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang sama yaitu perniagaan(perdagangan), kecuali dalam surat Faatir: 29, dalam surat tersebut yang dimaksud dengan kata تجارة adalah pahala dari sisi Allah yang pasti hasilnya dan tidak merugi(يرجوا ثوابا عند الله لا بد من حصوله). Sedangkan pada ayat-ayat yang lain maknanya sama hanya saja berbeda konteks pembahasannya. Pada Al-Baqarah:282 dimaksudkan adalah perniagaan (مبايعه) yang dilakukan denagn tunai(يدا بيدِ) . Pada ayat 16 al-Baqarah kata تجارتهم ditafsiri denagn penggunaan modal untuk membeli suatu barang dan menghasilkan keuntungan ketika dijual. Hanya saja pada ayat ini yang menjadi subjek adalah orang munafik yang membeli kekufuran denagn keimanan untuk mendapatkan kekayaan duniawi. Dalam surat An-Nisa’:29, diartikan perpindahan hak kepemilikan barang atau manfaat dengan asas saling rela ( مقابلة عين او منفعة على سبيل التراضى). Pada surat At-Taubah:24, tijarah yang dimaksud adalah perdagangan yang dikhawatirkan kerugiannya sebab mayoritas konsumennya adalah orang kafir, sehingga mereka enggan untuk berperang. Dalam surat An-Nuur:37 menunjukkan pembahasan tentang laki-laki yang mendapatkan balasan pahala dari Allah sebab tidak terpengaruh dan lalai dengan perniagaan atau transaksi duniawi. Surat al-Jumu’ah:11 menjelaskan transaksi yang dilarang sebab dilakukan pada waktu sholat jum’at dilaksanakan. Pada surat As-Shaff:10, transaksi yang dapat menyelamatkan dari adzab adalah keimanan pada Allah dan Rasul serta berjihad dijalan Allah dengan harta maupun jiwa.

2. حاضرة

Dalam al quran lafadz حاضرة disebutkan dalam beberapa bentuk baik dalam bentuk kalimat fiil (kata kerja) madli dan mudhari’(masa lampau dan sekarang). Dengan bentuk حضر disebutkan sebanyak 5 kali yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 133 dan 180, an-Nisa’ ayat 8 dan 18, dan yang terakhir tedapat pada surat Al-Maidah ayat 106. sedangkan dalam bentuk fiil mudhari’يحضرون, hanya terdapat dalam satu surat saja yaitu al-Mu’minun;98. bentuk kata حاضراdisebutkan hanya pada surat Al-Kahfi:. Bentuk حاضريdalam surat al-Baqarah :196 lalu حضروهdalam surat Al-Ahqaf :29

Pada umumnya kata حضر yang terdapat dalam Al-Qur’an digunakan untuk menunjukkan datangnya ajal(kematian), dan termasuk dalam pembahasan Waris. Sebagaimana surat Al-Baqarah: 133, kata حضر (hadir) selalu digandengkan dengan kata الموت (kematian) atau tanda-tandanya. Begitu juga pada ayat-ayat yang lain. Pada surat Al-Maidah:106 yang dimaksudkan adalah hendaknya seseorang berwasiat ketika ajal datang. Namun pada surat An-Nisa’:8 kata حضر disandarkan pada اولوا القربى (kerabat). Tapi masih dalam pembahasan waris. Kata حضروه dalam Al-Ahqaf:29 berarti menghadiri dalam hal penyiaran Al-Qur’an utuk golongan jin dan jin menghadiri dan menyimaknya. Kata حاضرة pada surat Al-Baqarah:282 saja yang berarti tunai sedangkan pada surat Al-A’raf: 163 berarti dekat (حاضرةالبحر), yakni penduduk dekat laut merah dalam kisah Nabi Musa. Begitu juga dalam surat Al-Baqarah: 196 juga berarti dekat hanya saja dalam bentuk kata حاضري(حاضري مسجدالحرام) maksudnya penduduk dekat kota Mekkah dalam pembayaran fidyah termasuk pada pembahasan Haji. Dalam surat Al-Kahfi:49 kata حاضرا berarti ada(tertulis) ketetapannya dalam kitab.

3. تُدِيرُون

Lafadz تُدِيرُون adalah fiil mudhari’ yang menunjukkan arti jama’ asalnya adalah تديرdari fii’ madhiادار yang berfaidah ta’diyyah, bentuk mujarradnya adalah دار يدير dalam Al-Quran disebutkan lafadz تُدِيرُون dalam surat al-Baqarah 282 yang menunjukkan pada transaksi yang dijalankan dan kedua orang yang bertransaksi tersebut telah melakukan serah terima. Dan bentuk kata تدورdalam surat Al-Ahzab:19 berarti berbolak baliknya mata yang maksudnya adalah bakhil.

4. تكتبوا

Dalam Al-Qur’an kata تكتبوا ini disebut dalam beberapa bentuk dan cukup banyak. Dalam bentuk kata kerja yang aktif (كَتب)disebukan sebanyak 8 kali dalam surat Al-Maidah:21, Al-An’am: 12 dan 54, Al-Baqarah: 187, At-Taubah 51, Al-Mujadalah; 21-22, Al-Hasyr; 3 dan yang pasif (كُتب)disebutkan sebanyak 13 kali. Dengan bentuk kataيكتب disebutkan sebanyak 4 kali yaitu dalam surat Al-Baqarah:282(2 kali) dan Al-Baqarah ayat 283, pada surat An-Nisa’ ayat 81. dengan bentuk kataيكتبون disebutkan sebanyak 5 kali yaitu pada surat al-Baqarah:79, yunus:2, Az-Zukhruf:80, aT-Thur:41 dan Al-Qalam:47 dalam bentuk kata benda كتاب disebutkan sebanyak 230 kali

Tidak semua kata كتاب berarti Al-Qur’an, lafadz كتابا yang disebutkan sebanyak 12 kali mempunyai makna yag berbeda-beda. Pada surat Ali Imran: 145 berarti ketetapan Allah mengenai takdir, An-Nisa’:103 mengandung arti kewajiban sholat yang telah ditetapkan waktunya(كتابا موقوتا). Juga berarti al-Qur’an (kitab suci) yang diturunkan pada Nabi Muhammad sebagai mu’jizat yakni pada surat Al-Isra’:93 dan Al-Anbiya’: 10. selain itu juga menunjukkan Al-Qur;an sebagai bukti kekuasaan Allah(faatir:40), كتاب juga berarti kitab suci selain Al-Qur’an misalnya dalam surat Az-Zukhruf : 21. selain itu juga berarti catatan amal perbuatan manusia sebagaiman surat An-Naba’: 29. Kata كَتب maupun كُتب menunjukkan pada ketetapan Allah baik mengenai takdir, hukum(kewajiban), adzab dan menetapkan suatu sifat penyayang (رحمة) bagi diri-Nya(Al-An’am:12), sedangkan يكتب berarti menuliskan, mencatat dan menetapkan.

Penggunaan Kata تجارة

Dalam Beberapa Konten Pada Masing-Masing Surat

Surat: Ayat Kata Kunci KONTEN

Al-Baqarah:282 تجارة Transaksi perpindahan hak milik barang(مبايعه) secara tunai (يدا بيدِ).

An-Nisa’:29 – Perpindahan hak kepemilikan barang atau manfaat dengan asas saling rela ( مقابلة عين او منفعة على سبيل التراضى).

At-Taubah: 24 – Tijarah yamg dimaksud adalah perdagangan yang dikhawatirkan kerugiannya sebab mayoritas konsumennya adalah orang kafir, sehingga mereka enggan untuk berperang. Malah membuka dagangan ketika musim haji

An-Nuur: 37 – pembahasan tentang laki-laki yang mendapatkan balasan pahala dari Allah sebab tidak terpengaruh dan lalai karena perniagaan atau transaksi duniawi

Faatir: 29 – pahala dari sisi Allah yang pasti hasilnya dan tidak merugi(يرجوا ثوابا عند الله لا بد من حصوله).

As-Shaff: 10 – transaksi yang dapat menyelamatkan dari adzab adalah keimanan pada Allah dan Rasul serta berjihad dijalan Allah dengan harta maupun jiwa.

Al-Jumuah: 11 – transaksi yang dilarang sebab dilakukan pada waktu sholat jum’at dilaksanakan

Al-Baqarah: 16 تجارتهم penggunaan modal untuk membeli suatu barang dan menghasilkan keuntungan ketika dijual. Yang menjadi subjek pada ayat ini adalah orang munafik yang membeli kekufuran dengan keimanan untuk mendapatkan kejayaan dan kekayaan duniawi.

Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan dan memperhatikan semua ayat yang berhubungan dengan Tijarah untuk menggali hukum dan tata cara berbisnis yang sesuai dengan syariat, adapun ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Al-Baqarah:282 tentang tata cara dan syarat jual beli dengan sistem hutang piutang maupun tunai.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى وَلاَ يَأْبَ الشُّهَدَاء إِذَا مَا دُعُواْ وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيراً أَو كَبِيراً إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوْاْ إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلاَ يُضَآرَّ كَاتِبٌ وَلاَ شَهِيدٌ وَإِن تَفْعَلُواْ فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah. tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

2. An-Nisa’:29 tentang perlindungan hak laki-laki dan perempuan dalam Islam. Islam melarang manusia menggunakan harta yang bukan haknya kecuali dengan cara transaksi yang bedasarkan asas saling rela agar tidak terjadi kerusuhan atau perpecahan antar orang muslim

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

3. At-Taubah: 24 tentang orang-orang yang berjihad dijalan Allah dan tidak hanya memikirkan kesenangan dunia.

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik

4. An-Nuur:37 tentang mereka yang mendapatkan pancaran nur ilahi

ِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

5. Faatir:29 tentang orang-orang yang berilmu dan bertaqwa

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi

6. As-Shaff:10 tentang kemenangan yang hanya dapat diperoleh dengan pengorbanan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

7. Al-Jumu’ah:11 tentang hukum berbisnis yang dilakukan pada waktu sholat jum’at sedang berlangsung.

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْواً انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِماً قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.

8. Al-Baqarah:16 tentang golongan munafik yang membeli kesesatan dengan petunjuk

اولئك الذين اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم وماكانوا مهتدين

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk

SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ISLAM

Menurut Hadawi Nawawi sumber daya manusia (SDM) adalah daya yamg bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga atau kekuatan (energi atau power).

Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu:

Ciri-cir pribadi berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan.

Ciri-ciri interpersonal, yaitu hubungan antar manusia dengan linkungannya.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi, hal ini banyak dicantumkan dalam Al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengan kekuatan yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya. Untuk mencapai derajat khalifah dimuka bumi ini diperlukan proses yang panjang, dalam Islam proses tersebut ditandai dengan pendidikan yang dimulai sejak buaian sampai keliang lahat.

Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriyah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh diantaranya manusia mempunyai rasio/ pemikiran, kalbu/hati, ruh/jiwa.. Pembangunan dalam Islam tentunya harus memperhatikan dua potensi ini .(http://vandha. WordPress.com.2008).

Jadi, dari kedua potensi diatas dapat dilihat bahwa dalam pendidikan, Islam sangat memandang tinggi masalah SDM ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak, karena lahiriyah dan ruhaniyah seseorang dapat dilihat bagaimana akhlak orang tersebut.

Tidak dapat dipungkiri aspek jasmaniyah selalu ditentukan oleh ruhaniyah yang bertindak sebagai pendorong dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM yang berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusi itu sendiri.

Selain dari dua potensi diatas manusia juga mempunyai unsure yang lebih lengkap, selain dibekali nafsu juga diberikan akal untuk berfikir, sehingga ia bebas menentukan  mana jalan ynag akan dipilih, jalan takwa atau jalan fujur yang diilhamkan kepadanya.

Dalil –dalil tentang sumber daya manusia (SDM):

Al-Qur’an surat At-Tiin ayat 4, yang berbunyi:

Artinya: “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30, yang berbunyi:

Artinya: “ingatlah keika tuhan-Mu berfirman kepada malaikat:”sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: “ mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kemerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?” Tuhan berfirman:sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak engkau diketahui” .

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 165, yang berbunyi:

Artinya: “dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagia yang lainbeberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikannya kepadamu. Sesunguhnya tuhanmu amat cepat siksanya, dan sesunguhnya dia maha pengampun lagi maha penyayang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: