RSS Feed

My.Biology

Struktur Genetika Virus Avian Influeze

june 06, 2011 – 1:30 am

Avian influenza atau dikenal juga dengan nama flu burung merupakan salah satu tipe penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Salah satu virus flu burung adalah H5N1. Struktur genetika H5N1 bermutasi menjadi beberapa varietas yang sangat patogen.

Semua mutasi tersebut terjadi pada sekelompok gen yang termasuk ke dalam genotip Z. Genotip Z diketahui berasal dari mutasi H5N1 yang pernah menulari warga Cina pada tahun 1996. Para ahli kini menyatakan bahwa genotip Z tersebut merupakan genotip yang dominan pada virus flu burung H5N1.

Virus flu burung termasuk ke dalam kelompok virus RNA. Setidaknya terdapat 11 molekul RNA yang diketahui dari virus influenza tipe A, dua di antaranya yang dianggap sangat penting adalah molekul PB1 dan HA. PB1 merupakan molekul yang mengkode sintesis polimerase virus yang mampu meningkatkan virulensi (kemampuan virus menginfeksi sel inang).

Molekul PB1 mengkode sintesis protein PB1 dan PB1-F2. Protein PB1 merupakan komponen penting yang menyusun polimerase virus. Protein PB1-F2 belum diketahui dengan pasti peranannya namun terdapat kemungkinan dapat meningkatkan patogenisitas virus flu. HA mengkode sintesis antigen permukaan yang berperan dalam penularan virus dari satu sel ke sel lain dalam tubuh.

Molekul HA pada RNA dari struktur genetika virus flu burung mengandung gen yang mengkode hemagglutinin (H). Hemagglutinin merupakan antigen yang terbuat atas gula dan protein (glikoprotein) dan ditemukan pada permukaan virus influenza. Antigen permukaan tersebut berfungsi untuk pelekatan virus pada permukaan sel inang. Perbedaan virus flu yang normal terjadi pada manusia dengan virus avian influenza adalah reseptor HA-nya. HA dari virus flu yang normal berikatan dengan reseptor asam N-asetilneuraminik (Neu5Ac atau NANA) pada ikatan alfa-2,6.

Sedangkan HA dari virus flu burung berikatan dengan reseptor asam NANA pada ikatan alfa-2,3. Dalam keadaan normal, manusia akan memiliki sangat sedikit reseptor HA virus flu burung dan banyak reseptor HA virus flu normal. H5N1 yang memiliki mutasi HA ternyata mampu menginfeksi manusia karena mutasi tersebut menyebabkan HA virus flu burung dapat berikatan dengan reseptor virus flu normal.

Struktur genetika H5N1 yang juga penting adalah molekul NA, M, dan NP. NA mengkode sintesis neuraminidase (N), yaitu enzim yang berperan dalam pelepasan sel-sel virus hasil replikasi untuk keluar dari sel inang yang terinfeksi. M mengkode protein matriks M1 dan M2 yang bersama-sama dengan H dan N akan menyusun kapsid virus. M1 berikatan dengan RNA virus, sedangkan M2 berfungsi untuk melepaskan RNA tersebut ke dalam sel inang ketika virus telah menempel pada sel dengan bantuan H. NP mengkode sintesis nukleoprotein yang berperan dalam integrasi materi genetik virus dengan materi genetik sel inang sehingga materi genetik virus dapat bereplikasi.

Bacteriophage

Definisi

Bacteriophage adalah sejumlah virus yang menginfeksi bakteri dan dapat mematikannya.
Prevalence Bacteriophage di alam
Bacteriophage merupakan salah satu mikroorganisme yang banyak ditemukan hidup dipermukaan bumi. Sampai sekarang lebih dari 5.500 bacteriophage telah diketahui dan diperkirakan terdapat sekitar 10 pangkat 30 bacteriophage yang diketahui hidup pada lapisan biosfir tempat dimana bakteri biasa hidup seperti di tanah, air atau saluran pencernaan hewan.Induk Semang spesifik
Bacteriophage merupakan parasit obligate intracelullar yang dapat berkembangbiak hanya di dalam sel induk semang. Kespesifikkan ini menunjukan bahwa bacteriphage tertentu hanya dapat menginfeksi bakteri tertentu yang mempunyai reseptor yang cocok dengan bacteriophage tersebut. Peneliti telah mengetahui jenis induk semang yang sesuai untuk bacteriophage tertentu.

Proses Reproduksi Bacteriophage
Gambar di atas memperlihatkan skema perkembangbiakan bacteriophage dalam sel induk semangnya (bakteri). Pada setiap akhir reproduksi partikel parasit sel ini selalu menyebabkan kematian bakteri yang menjadi induk semangnya atau bakteri yang diinfeksi oleh bacteriophage tersebut. Hal ini terjadi karena ketika bacteriophage keluar dari bakteri yang terinfeksi selalu menyebabkan sel prokaryotik induk semangnya lisis. Untuk dapat masuk ke dalam sel induk semang, bacteriophage harus menempel pada reseptor yang cocok yang terdapat pada permukaan sel bakteri, didalamnya terdapat lipopolisakharida, teichoic acid, protein dan juga flagella. Setelah bacteriophage menempel pada permukaan bakteri (attachment), bacteriophage menginjeksi bahan genetiknya (DNA atau RNA) ke dalam sel induk semang. Dalam waktu beberapa menit, ribosom bakteri induk semang memulai melakukan translating mRNA bacteriophage menjadi protein. Sintesis protein dan asam nukleat induk semang yang biasanya dilakukan secara normal menjadi terganggu. Hal ini terjadi karena timbulnya proses replikasi dan perakitan bacteriophage baru serta pelisisan sel induk semang dalam rangka memproduksi bakcteriophage. Seluruh proses ini dilakukan hanya dalam waktu sekitar 22 menit.
 
PTERIDOPHYTA

 LAPORAN HASIL PENGAMATAN

TUMBUHAN PAKU (PTERYDOPHYTA) DI WAHANA WISATA AIR TERJUN CUBAN RA’IS BATU

Dosen pengampuh:

Drs. Sulisetjono, M,Si

Ainun Nikmatul laiy M,Si

Oleh kelompok: I

Hariyanti 10620088

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

FAKULTAS SAINS DAN TEGNOLOGI

JURUSAN BIOLOGI

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.I  LATAR BELAKANG

Adanya aktifitas dinamika pembangunan yang merembah luas  dikawasan kawasan yang seharusnya dipertahankan eksitensinya. Hal ini merupakan masalah tersendiiri bagi biodeversitas dan keseimbangan ekologi didalamnya. penebangan pohon dan penggundulan tanah sebagai wahana industri , pemukiman, pertanian, dan lahan perkebunan merupakan masalah tersendiri bagi keanekaragamaan hayati disekitarnya termasuk tumbuhan paku pakuan sebagai salah satu bagian dari biodeversitas dan salah satu aset kekayaan didunia flora yang sebagian besar hidup secara epifit.

Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan terjamahnya kawasan kawasan hutan lindung, kawasan konservasi cagar alam oleh aktifitas manusia dan dinamika pembangunan itu sendiri. Hal itu dapat mengakibatkan eksistensi tumbuhan paku  terganggu atau bahkan hilang dan punah akibat terganggunya habitat tempat hidupnya.

Jika dilihat dari habistus dan cara hidupnya, tumbuhan paku banyak juga ditemukan didaerah Wahana Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu. Sebagian hidup secara epifit dan sebagian pula hidup secara Teressterial ( ditanah ). Sebenarnya kawasan ini merupakan kawasan cagar alam dan hutan lindung. Dimaa hutan lindung adalah hutan yang ditumbuhin pepojonan keras pencegah erosi yang dipertahankan sedemikan rupa dan diperhatikan kelestariannya, sebagai hutan perlindungan alam, pengaturan tata air dan pengawetan tanah/lahan. Tetapi dalam kenyataannya masih sering kita temukan proyek proyek pembangunan, pemukiman serta penggundulan hutan/tanah yang digunakan sebagai lahan perkebunan atau perkebunan, pemukiman bahkan area industri.

Tumbuhan paku sebagai salah satu bagian dari biodeversitas dan aset kekayaan keanekaragaman dunia flora, merupakn tumbuhan yang memiliki banyak nilai manfaat bagi kehidupan sehari hari manusia. Nilai manfaat tumbuhan paku selain untuk keperluan Widya wisata ( media pembelajaran ) yang dapat diteliti dan dipelajari, nilai manfaat tumbuhan paku juga dapat dijumpai sebagai tanaman hias seperti Asplenium sp,Adiantum sp,  sebagai tanaman obat ( Equisetum debile), untuk media anggrek cyathea contaminans, dan juga bahan kerajinan. Bahkan ada yang dimanfaatkan sebagai sayuran yang dapat dikonsumsi yaitu Athyrum esculentum.

Oleh karena itu sangat penting rasanya nilai guna dan manfaat dari diadakannya penelitian didaerah Wahana Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu guna meneliti keanekaragaman tumbuhan paku sebagai salah satu upaya dalam mempertahankan dan juga melstarikan keberadaannya sebagai salah satu bagian dari biodeversitas dan aset kekayaan alam flora kita sebagaiman a dijelaskan bahwa penelitian dalam pengertian yang   paling luas adalah salah satu penerapan penting ekologi.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian singkat diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Jenis-jenis tumbuhan paku teresterial apa saja yang terdapat dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?
  2. Bagaimana tingkat keanekaragaman tumbuhan paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?
  3. Bagaimana pula pola penyebaran dari tumbuhan paku pakuan  tersebut dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?

1.3 Ruang Lingkup dan batasan masalah 

Adapun ruang lingkup dan batasan masalah dari penelitian ini adalah:

1.  Jenis-jenis tumbuhan paku

2.  Dan pengamatan terhadap tumbuhan paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?

1.4 Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari dilaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan paku khususnya paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?
  2. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?
  3. Untuk mengetahui pola persebaran tumbuhan paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?

1.5  Pentingnya penelitian

Tumbuhan paku memiliki banyak peranan penting dalam kehidupan manusia sehari hari. Selain sebagai biodervesitas yang tinggi di dunia flora, paku juga banyak berperan dalam kehidupan sehari hari, Diantaranya :

1. Bidang Pendidikan

Dalam hal ini tumbuhan paku juga berfungsi sebagai Widya Wisata yaitu Sarana/Media pembelajaran.

2. Bidang kesehatan

Setelah di identifikasi ternyata tumbuhan paku juga bermanfaat sebagai tanaman obat yang dapat     menyembuhkan penyakit.

3. Bidang Holtikultur

Dalam bidang Holtikultur ini tumbuhan paku ini berdaya guna sebagai tanaman hias, Bahan kerajinan, Sayur, dan juga bahan obat obatan.

4. Bidang Agribisnis

Agribisnis disini dapat diartikan sebagai media wiraswasta, yaitu tumbuhan paku berfungsi sebagai tanaman Hias  yang pada akhirnya bisa tumbuh menjadi industri bunga bungaan.

1.6 Asumsi Penelitian

1. Obyek Penelitian ini adalah tumbuhan paku, dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu?  Hal itu dikarenakan tingkat keanekaragaman tumbuhan paku  yang ada dikawasan ini masih tergolong tinggi.

2. Didaerah ini juga belum pernah terjadi bencana yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan secara global, sehingga dapat dikatakan biodeversitasnya masih tergolong tinggi.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.   PENGERTIAN TUMBUHAN PAKU ( PTERIDOPHYTA )

         Tumbuhan Paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai Kormus, Artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, Yaitu Akar, Batang, dan Daunnya. Namun demikian dengan tumbuhan paku belum dihasilkan biji, seperti warga divisi divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah Spora. Oleh sebab itu sementara Ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan menjadi dua kelompok saja yang diberi nama Cryptogamae dan Phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan spora) yang meliputi yang sekarang kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pterodophyta. Nama Cryptogamae diberikan berdasarkan cara perkawinan (alat alat perkawinannya) yang tersembunyi (Cryptos-Tersembunyi) gamos (kawin), berbeda dengan Phanerogamae  (tumbuhan biji) yang cara perkawinannya tampak jelas ( yang dimaksud disisni sebenarnya adalah penyerbukan yang lebih dulu diketahui daripada peristiwa peristiwa seksual yang terjadi pada golongan tumbuhan yang tidak berbiji) ( Undang 1991).

Warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habistus maupun cara hidupnya, lebih lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jenis jenis paku yang sangat kecil dengan daun daun yang kecil pula dengan struktur yang yang masih sangat sederhana, Adapula yang besar dengan daun daun yang mencapai ukuran panjang sampai dengan 2M, atau lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30M dengan garis tengah batang sampai 2M.

B.   KLASIFIKASI

Smith (1953) menklasifikasikan tumbuhan paku menjadi 4 devisi yaitu Lycophyta, psilophyta, Lepidophyta, Arthrophyta, atau calamophyta atau sphenophyta, dan Filicophyta, atau pterophyta.

Benson (1957) mengklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu kelas psilopsida dengan satu ordo yaitu, Psilotales, kelas Lycopsida dengan tiga ordo yaitu, Lycopodiales, Shilaginellales, Isoitales, Kelas Shenopsida dengan satu ordo yaitu equisetales, kelas Pteropsida Dengan tiga ordo Filicales, Marraiales dan Ophioglossales.

Bold (1987) mengklasifikasikan tumbuhan paku menjadi 4 devisi yaitu Psilophyta, microphyllophyta, Arthrophyta, Pteridophyta.

Para Ahli Taksonomi Berbeda beda dalam mengklasifikasikan tumbuhan paku. Hal ini dikarenakan Ahli Taksonomi tersebut memandang dari segi yang berbedea beda.

C.   MORFOLOGI

Bentuk tumbuhan pakubermacam macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, Hidrofit, tetapi biasanya berupa tema dengan rizoma yang menjalar ditanah atau humas dan ental (bahasa inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6M). Ental yang  masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola)dan menjadi satu ciri tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan lain.

AKAR

Akkar tumbuhan paku berupa akar serabut. Pada akar tumbuhan ini, Xilem terdapat ditengah yang dikelilingi Floem membentuk berkas pembuluh angkut yang konsentris, Akar mempunyai Kaliptra.

BATANG

Batangnya jarang tumbuh tegak diatas tanah, kecuali pada paku tiang alsopils (sp. Dan Cyathea sp.). batang tersebut kebanyakan berupa akar tongkat (Rhizoma). Tipe berkas pembuluh angkut batang sama dengan akar, Yaitu Tipe kosentris.

Batang juga bercabang cabang menggarpu (dikotom) atau jika membentuk cabang cabang kesamping dan cabang cabang baru itu tidak keluar dari ketiak daun.Pada batang tumbuhan ini terdapat banyak daun yang dapat tumbuh tumbuh terus sampai lama

DAUN

Bermacam macam daun paku Diantaranya adalah:

  • daun yang kecil-kecil disebut Mikrofil
  • daun yang besar besar disebut Makrofil dan telah mempunyai daging daun mesofil)
  • daun yang khusus untuk asimilasi disebut tropofil
  • daun yang khusus menghasilkan spora disebut sporofil

D. HABITAT

Berdasarkan Habitatnya tumbuhan paku dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu diataranya:

1.    Paku Epifit

Yang termasuk jenis dari tmbuhan paku ini adalah terutama yang berbentuk pohon, Holtum (1978) membagi paku epifit menjadi dua kelompok yaitu:

       a. Tumbuhan paku epifit pada tempat terbuka

Tumbuhan ini biasanya terdapat pada tempat yang memiliki penyinaran matahari yang cukup atau bahkan agak teduh yang tahan terhadap angin.dari spesies ini contohnya adalah Platycerium Desvaux J. Smith, Asplenium Nidus L.

b. Tumbuhan paku epifit pada tempat tempat terlindung

Tumbuhan jenis ini biasanya tumbuh pada bagian bawah pohon dihutan terutama ditempat tempat yang dibayangi oleh pegunungan, dan juga tempat tempat yang jyga dekat dengan air. Diatarannya adalah Asplenium Tenerum Forst.

2.    Paku akuatik `

Tumbuhan yang termasuk kedalam kelompok ini adalah tumbuhan yang   mengapung bebes diatas permukaan air. Dalam hal ini adalah anggota dari Familia Salviniaceae dan juga Marsileaceae.

3.    Paku Tanah (teressterial)

Tumbuhan paku pakuan yang termasuk dalam kelompok ini adalah paku pakuan yang hidup didaerah tanah (teressterial) tebing terjal ataupun tembok. Paku jenis ini dapat dikelompokkan menjadi

a. Paku Memanjat

Jenis tumbuhan ini mempunyai Rimpang yang ramping yang panjang, berakar dalam tanah, Memanjat pohon tetapi tidak Epifit dan juga menyukai tempat yang teduh (kecuali Stenochlaene J. Smith. Beberapa contohnya adalah lindsaya macracana, Terathophyllum mettanius.

b. Paku ditanah terbuka

Tumbuhan  Paku ini berada diatas permukaan tanah yang terbuka dimana jarang terdapat pohon pohon yang teduh, dalam hal ini contohnya adalah: Gleichenia linearis.

c. Paku ditanah tertutup/Terlindungi

Tumbuhan ini tumbuh subur pada permukaan tanah teduh yang penuh dengan  pohon pohon rindang dan memiliki kelembaban udara yang cukup baik dan tinggi, Seperti Angiopteris Evecta.

Nb. Sumber literature: Bahan Ajar Pteridophyta ( Sulisetjdono )

                                                                                                      BAB III

                                                                                    METODE PENELITIAN

3.1  Waktu dan Tempat penelitian

          Penelitian ini dilakukan dikawasan dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu, pada tanggal 18 maret 2012 pada pukul 11.00-13.00 WIB.

3.2  Jenis dan rancangan penelitian

Dalam penelitian ini kita menggunakan metode Diskriptif Kualitatif dengan cara Eksplorasi dan dengan Dokumentasi Gambar yang ada.

3.3  Instrumen Penelitian

3.3.1 Subyek Penelitian

Adapun Subyek dalam Penelitian kali ini adalah seluruh Anggota yang termasuk kedalam paku paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu

3.3.2 Alat Dan Bahan

Alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah meliputi:

  1. Buku Identifikasi
  2. Catatan Hasil
  3. Kertas Label
  4. Alkohol 70%
  5. Koran untuk Herbarium/pengawetan tumbuhan,
  6. Kamera Digital.
  7. Plastik Sampel

3.4 Prosedur Penelitian

Adapun Prosedur tahapan dari penelitian ini adalah:

1. Tahapan Observasi ( Studi pendahuluan)

Yang dimaksud pada tahapan ini adalah merupakan tahap penjelajahan lokasi penelitian, hal itu ditujukan untuk mengetahui lokasi dimana ditemukannya banyak ditemukannya tumbuhan paku pakuan. Dan juga untuk lebih mengetahui jenis jenis  dengan cara survei langsung kelapangan.

2. Tahapan Eksplorasi

Yaitu diman merupakan tahapan penjelajahan lokasi secara keseluruhan secara bertahap sesuai dengan hasil observasinya. Dalam hal ini dilakukan untuk mengambil spesimen beberapa jenis spesimen tumbuhan paku untuk di identifikasi lanjut dan Herbarium.

BAB IV

PEMBAHASAN

Hasil inventarisasi paku dikawasan Wisata Air Terjun Cuban Ra’is batu. Dalam pengambilan data,  kami terfokus pada dua tempat yang berbeda yaitu pada daerah disekitar sepanjang aliran sungai dan pada bebatuan yang ada pada daerah tersebut.

DATA HASIL PENGAMATAN

  1. Tumbuhan Paku sepanjang aliran sungai
  1. 1.    Equisetum sp.
  2. 2.    Aracnoides aristata
  3. 3.    Angiopteris angustifolia presl
  4. 4.    Pteris vittata
  5. 5.    Cyantea sp.
  6. 6.    Neprolepis cordifolia
  7. 7.    Lycopodium selago
  8. 8.    Stenoclaena tenuifoila
  9. 9.    Anthyrium
  10. 10.  Tectaria
  11. 11.  Belvisia revolute
  12. 12.  Lycopodium clavatum
  13. 13.  Pteris sparsa
  14. 14.  Adiantum philipense
  15. 15.  Adiantum Fenerum
  16. 16.  Adiantum Ceneatum
  17. 17.  Adiantum Capillus-veneris
  18. 18.  Silaginella denticulata
  19. 19.  Mikrospora
  20. 20.  Silaginella krausiana

DISKRIPSI BEBERAPA JENIS PAKU

  1.  Angiopteris angustifolia presl

Paku jenis ini banyak ditemukan pada daerah teressterial atau daerah daratan atau bsa disebut juga tumbuhan paku yang hidupnya menempermukaan tanah. Rhizomanya tegak dan kuat sedangkan Daunnya  (Enntal) Menyirip ganda dengan tepi daunnya rata dan berbentuk jorong, ujung meruncing, pangkal meruncing dan tangkai ental keras berwarna hijau. Sori terletak dibagian tepi Ental sepanjang bagian bawah, Berkelompok, dan berbentuk memanjang.

Spesimen     :  SP 6, 18 maret 2012

Ditemukan  : Daerah sepanjang aliran sungai

Distribusi    : Sumatera utara dan Malaya

Habitat         : Teressterial, terdapat didaerah terbuka. Pada lokasi penelitian ditemukan didaerah dekat dengan Aliran sungai

 

KLASIFIKASI
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
Divisi  Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas   Marattiopsida
Ordo  Marattiales
Famili  Marattiaceae
Genus   Angiopteris
Spesies   Angiopteris angustifolia presl

                                                                           www.plantamor.com

2.    Equisentum debile (sp 2) Equisetales

Semua anggota paku ekor kuda bersifat tahunan, juga merupakan terna yang berukuran kecil (tinggi 0,2-1,5), Anggota anggotanya dapat dijumpai diseluruyh dunia kecuali Antartika. Batang tumbuhan ini berwarna hijau, namun dalam pengamatan juga terdapat yang berwarna cokelat kehitaman, beruas ruas, berlubang ditengahnyayang berperan sebagai organ. Fotosintentik menggantikan daun, batangnya dapat bercabang, cabang duduk mengitari batang utama, dimana batang ini banyak mengandung silica, ada kelompok yang batangnya bercabang dalam posisi berkarang dan ada juga dalam posisi tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang biak, hanya menyerupai sisik  yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada strujktur berbebtuk gada yang yang disebut Strobilus (jamak Strobili)yang terletak pada ujung batang (apical). Batang (batang steril mirip dengan batang pendukung strobilus), misalnyaE. palustredanE. debile.

Spora yang dihasilkan paku ekor kuda umumnya hanya satumacam (homospor) meskipun spora yang lebih kecil pada E.arvense tumbuhmenjadi protalium jantan.Sporakeluardarisporangium yang tersusun pada strobilus. Sporanya berbeda dengan sporapaku-pakuan karena memiliki empat “rambut” yang disebut elater.Elater berfungsis ebagai pegas untuk membantu pemencaran spora ( Harianti.2000).

Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumpu tbetung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat ( Harianti: 2000 )

Equisentum Debile berstrobilus

SISTEMATIKA

Kerajaan  Plantae

Devisi  Pteridophyta

Classis  Equisetopsida

Ordo  Equisetales

Famili  Equisetaceae

Genus  Equisetum

Spesies  Equisetum debile

http://www.plantamor.com

Jika Diamati secara detail melalui morfologi tanaman ini Berperawakan Herba seperti Ekor kuda, Membentuk semak semak dengan Habitat Tanah yang dekat aliran Air, tanah lembab dan juga tanah teduh, bercampur dengan semak semak lain, Cabang diatas permukaan tanah tegak, Denan diameter4-6 mm, Hijau bulat beralur, Terdiri atas ruas ruas yang panjang, semakin muda ruas akan makin pendek, kaku dan bengkok tapi juga mudah patah, Bercabang cabang pada buku buku tertentu dan cabang cabang tersebut melingkari bukunya, Daun: Mikrofil, Isofil atau serupa sisik atau selaput yang bentuknya meruncing, dibagian bawah yang berlekatan menjadi suatu sarung yang menyelubungi cabang terutama bagian bawah tiap tiap ruas, cokelat kehijauan atau cokelat pudar, Konus belum diketahui.

                                                                                               Equisetum debile

3.    Aracnoides aristata

         DISKRIPSI
Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale merupakan nama spesies dari klas Filicopsida dan family Dryopteridaceae. Dryopteridaceae merupakan salah satu suku anggota tumbuhan paku (Pteridophyta) yang tergolong dalam bangsa paku sejati yang terbesar. Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale adalah pakis teresterial dengan daun terpecah yang hidup di daerah tropis ( sari: 2005).


                                                                                 Arachniodes aristata

KLASIFIKASI
Kingdom  Plantae
Phylum  Pteridophyta

Divisi  Filicineae
Class  Filicopsida
Orde  Polypodiales
Family Dryopteridaceae
Genus  Arachniodes
Species  Arachniodes aristata

                                                                                                http://www.plantamor.com

Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale merupakan kelompok tumbuhan berklorofil, memiliki organ-organ yang berdiferensiasi menjadi batang, daun dan rhizoid. Memiliki ikatan pembuluh terdiri dari xilem dan floem. Menghasilkan spora untuk perbanyakan generatifnya.

                                                                               Gambar sorus pada penampang daun

MORFOLOGI
Habitus
 Perdu
Habitat

Pakis Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale ini biasanya dapat ditemukan di    daerah yang cukup kering, diantaranya dapat di temukan di gunung, di hutan kering diantara batu-batu. Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale juga bisa ditemukan dalam zona kurang dari 20 km dari permukaan pantai. Pada saat melakukan pengamatan pakis arachnoids ditemukan didaerah tengah hutan menuju Air terjun Cuban Rai’is

Daun

                             penampang daun                            

     Daun Pakis  Arachniodes aristata  ini berwarna hijau gelap, panjang daun ± 4,5 cm, agak kaku seperti terbuat dari plastik. Berbentuk tegak lurus dengan tepi daun bergerigi, tulang daun menyirip , termasuk daun majemuk berseling. Permukaan daun kasar dan mengkilap, di bagian bawah daun bersisik mirip rambut, terdapat spora dibawah daun dan letak spora tersebut tersebar dikanan kiri urat daun.

 BATANG


Penampang batang Arachnoides aristata
Batang pada tumbuhan Pakis Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale ini tegak tidak berkayu, berwarna hijau gelap, bersisik, berbentuk bulat pipih, kadang-kadang panjangnya bisa mencapai lebih dari 50 cm pada daun fertile. pada satu batang duduk daun mencapai 5-10 helai daun.

AKAR

Akar pada pakis Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale memiliki bentuk akar serabut yang berwarna coklat menyerupai tanah. Akar digunakan sebagai penguat tanaman, sebagai pengangkut air dan unsur hara dari tanah ke seluruh bagian tanaman.

ENTAL Monomorphic

SPORA

Pakis Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale memiliki Sorus yang menyebar yang terletak di bawah permukaan daun. Setiap sorus terlihat melingkar coklat. Sorus (secara kolektif disebut sori), membentuk koloni-koloni di kanan kiri tulang daun. Terdapat indisium pada setiap sorus yang berwarna kuning kehijauan Masing-masing sorus mengandung kumpulan sporangia. sporangia berwarna hitam dan berbentuk bulat, sedangkan pada ujung daun tidak terdapat sorus. ukuran sorus berbeda-beda. Satu sporangium, dalam spora yang haploid. Bila spora ini dilepaskan dengan terbukanya indisium dan mendarat di tanah yang lembab mereka dapat berkecambah membentuk prothallium. Prothallium matang berisi antheridia dan archegonia. Sebuah sorus diperbesar untuk menunjukkan kumpulan sporangium lihat gambar  ( Ginting.N. 2008 ).

Bunga
Tidak ada bunga yang dihasilkan oleh Pakis Arachniodes aristata (G. Forst.)  Tindale.

 DISTRIBUSI
Jepang, Korea, Cina, Taiwan, India, SE. Asia generally, through Malesia to Polynesia and New Zealand. Hardy to -20°C, USDA Zone 6. Asia pada umumnya, melalui Malesia ke Polinesia dan Selandia Baru. Hardy menjadi -20 ° C, USDA Zone 6 (Anwar:1987)

.
10. SIKLUS HIDUP


Siklus hidup Arachniodes aristata (G. Forst.) Tindale ini menggunakan spora sebagai alat perkembang biakan vegetatifnya. Tumbuhan ini menghasilkan spora heterospora dimana bentuk dan ukuran spora berbeda. Terdapat pergiliran keturunan antara generasi gametofit dan sporofit. Generasi sporofit hidup dominan, generasi gametofit berukuran kecil (diameter + 1 cm) dan disebut protalium dan menghasilkan sel telur dalam arkegonium dan anterozoid dalam anteridium. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora
siklus hidup pakis yang khas: 1.Sebuah sporophyte (diploid) fase menghasilkan spora haploid oleh meiosis.2. Sebuah spora tumbuh melalui mitosis menjadi gametofit, yang biasanya terdiri dari prothallus fotosintetik.3. gametofit menghasilkan gamet (sering baik sperma dan telur yang sama prothallus) oleh mitosis.3. sel telur yang masih melekat pada prothallus. 4.Telur dibuahi menjadi zigot diploid dan mengalami pembelahan mitosis menjadi sporophyte (yang khas “pakis” tanaman) ( Steenis.Van. 2006 ).

KEGUNAAN
Beberapa jenis tumbuhan paku bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dibawah ini contoh pemanfaatan tumbuhan paku oleh manusia ( Tjitrosoepomo: 2000 ):
1. Dipelihara sebagai tanaman hias
2. Sebagai bahan makanan

  1. Cyathea.sp ( Cyathea moluccana)

Perawakan: berupa Pohon Habitat Tanah, Lereng Gunung, tempat terbuka, terlindung, Batang Berdiameter antara 10-25cm, Terdapat lekukan dangkal bekas pwerlekatan Tingkai, Tingginya mencapai 6-7M, Warnanya hitam pekat, Terdapat rose Ental diujung batang. Tangkainya besar, kuat dan berduri dengan pangkal tertutup Ramenta, Ramenta mencapai 45 x 2,5-3,5 mm. Cokelat pucat mengkilap, Keseluruhan bentuk Jorong dan memanjang, Lebarnya mencapai 115-120 cm, Pnjang 1,5 sampai 2 mm, permukaan atas daunya berwarna hijau dan permukaan bawah daunnya Hijau suram, Dapat mencapai panjang 50 cm Atau lebih , Dan lebar 20 cm.

                         Gambar Cyathea moluccana

Duduk torehnya hamper ketulang daun  , ujung runcing seperti sabit, Lobus memanjang dengan ujung membulat, Tepi beringgi dengan vena menyirip dari anak tulang daun pada lobus, Tunggal atau bercabang Dikotomi ekat anak tulang daun , Bebas mencapai tepi, dekat pangkal anak tulang daunterdapat rambut yang sangat pendek dan halus seperti Bludru. Sporangium:Annulus Obligue/ Miring. Sorus: bulat didalam dua baris yang teratur  dalam tiap lobus berindusium Bentuk bulat dan bila pecahseperti manggkuk, Spora Bilateral.

Penampang sorus Cyanthea. Sp

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

            Dari hasil pengamatan dengan juga mengambil beberapa jenis sampel tumbuhan paku, Bahwasannya Dikawasan Air terjun Cuban Ra’is dapat ditemukan sekitar 20 Spesies Tumbuhan paku yang terbagi dalam 3 DivisiDari paku Yaitu Lycopodiophyta, Filicophyta, dan Equisetophyta.

Dalam Devisi Equisetophyta dengan Kelas Equisetales dengan jenis Equisetum Debile. Untuk Divisi Filicophyta dengan kelas Filicales yaitu dengan jenis Adiantum Sp Atau sering juga disebut dengan paku Benar/ sungguhan. Sedangkan untuk Divisi Licopodiophyta dengan kelas Lycopodiales yaitu dengan Spesies Sillaginella Sp dan Lycopodium, Paku jenis ini sering disebut paku kawat atau Rane.

Dalam Pengamatan juga ditemukan 2 spesies paku yang berjenis pohon yaitu Cyantea Sp dan  Angiopteris Sp.

5.2 SARAN

Untuk pengamatan langsun kelapangan diharapkan para pengamat mempersiapkan bekal sebelum keberangkatan dan diharapkan mampu memanfaatkan waktu seefisien mungkin agar pengamatan dapat berjalan dengan lancar dan kita juga mampu mendapatkan hasil yang lebih memuaskan.

Lebih berhati hati dan teliti dalam pengidentifikasian sampel yang diperoleh.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Steenis.Van. 2006. Flora. Jakarta: Pradya paramitha

Tjitrosoepomo, G., 2000, Morfologi Tumbuhan, cetakan ke 12, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Pryer, K.M, Schuettpel, E., Wolf, P. G., Schneider, H., Smith, A. R., and Cranfill, R. 2004. Phylogeny and evolution of ferns (monilophytes) with a focus on the early leptosporangiate divergences. American Journal of Botany 91: 1582-1598

Smith AR, , Pryer KM, Schuettpelz E, Korall P, Schneider H, Wolf PG.2006. A classification for extant ferns. Taxon 55:705-731.

Anwar. J.S.J, Domanik. 1987. Ekologi ekosistem Sumatera.  UGM Press. Yogyakarta. Hal 419- 424

Ginting.N. 2008. Keanekaragaman tumbuhan pada zona Subalpia dihutan gunung Sinabung Kab. Karo Sumatra. Skripsi sarjana biologi (FMIPA) USU  Medan hal 30.

Harianti. 2000. Inventarisasi paku pakuan dibumi perkemahan Wara Patra jaya pangkalan barandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Skripsi Sarjana Biologi ( FMIPA) Unimed. Medan

Sari. 2005. Struktur an Komposisi Paku pakuan Dikawasan hutan sinabung Kab. Karo. Skripsi Sarjana Biologi ( FMIPA ) USU Medan. Hal 11-15

[3] Sumber gambar WWW. Plantamor.com

[4] Sumber gambar WWW. Plantamor.com

[5]Sumber gambar WWW.Plantamor.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: